NUZULUL QUR’AN DI INDONESIA: BERDAMAI DENGAN KEKELIRUAN

Beberapa hari sebelum Ramadhan mahasiswa IMT dari Gamus datang ke tempat saya. Mereka cerita tentang rencana kegiatan Gamus selama bulan Ramadhan. Rencana kegiatannya sangat bagus. Di akhir obrolan, mereka cerita bahwa puncak kegiatan akan dilaksanakan pada Malam Nuzulul Qur’an.

Seperti biasa, kenakalan kritis saya muncul. Saya tanya, “kapan itu?”. Mereka jawab dengan ringan: “ya tanggal 17 Ramadhan”. Kembali saya tanya, “Mengapa memilih tanggal 17 Ramadhan?”. Dengan tidak kalah ringannya dari jawaban sebelumnya mereka menjawab: “Ya kan memang Nuzulul Qur’an tanggal 17 Ramadhan”. Sekali lagi seperti biasa (saya belum bisa menghilangkan kebiasaan jelek), saya ledek pada mereka: “Kalian sudah lulus mata kuliah Agama Islam, aktif di Gamus, tiap minggu mungkin ikut pengajian, tapi urusan Nuzulul Qur’an masih juga salah”. Mereka bengong. Saya jelaskan argumentasinya. Ini kira-kira argumentasi saya kepada mereka.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Al-Quran diturunkan (untuk pertama kali) di malam lailatur qadr. Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa malam-malam qadr itu adalah 10 malam ganjil terakhir pada bulan Ramadhan. Nah, Ramadhan itu biasanya hanya 29 atau 30 hari. Tidak pernah lebih. Kalau kita pakai matematika sedikit maka malam lailatul qadr berada diantara 20-30 atau 19-29. Sulit dicari rujukan yang bisa menjelaskan bahwa Nuzulul Qur’an itu jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Dalam Hadits tidak ditemukan, dalam Al-Qur’an apalagi. Pakai pendekatan matematika juga gagal dipenuhi. Tapi di Indonesia koq biasa diperingati seperti itu. Itu argumentasi saya pada mahasiswa. Saya jadi inget potongan lagu kebangsaan: “Itulah Indonesia”.

Sependek ingatan saya, selain tentang Nuzulul Qur’an keajaiban lain Islam Indonesia adalah tentang keyakinannya akan jumlah ayat Al-Qur’an. Sejak di sekolah dasar (SD), kebanyakan dari kita diajarkan bahwa jumlah ayat al-Qur’an adalah 6.666 ayat. Setiap ada ulangan agama, baik di SD, SMP, SMA bahkan PT, yang menanyakan jumlah ayat al-Qur’an dan kita menjawabnya dengan angka tersebut maka jawaban kita (dianggap) benar. Sampai ketika jaman kalkulator ada, kemudian diikuti dengan adanya Excel di komputer, untuk membantu menghitung ayat Al-Qur’an, tetap saja jumlah ayat itu disebutnya 6.666 ayat. Memang sih angkanya manis, mudah diingat, tapi sebetulnya salah kaprah.

Kayaknya riwayat tentang jumlah ayat dan Nuzulul Qur’an tanggal 17 Ramadhan tiu berasal dari orang yang sama, yaitu Presiden Sukarno. Mungkin Presiden Sukarno tahu bahwa orang Indonesia tidak terbiasa melakukan riset, bahkan untuk sekedar menghitung jumlah ayat sekalipun. Sukarno tahu bahwa ayat itu sekitar 6 ribuan. Nah, kalau diberi angka yang manis 6.666 kayaknya orang Indonesia akan menerima. Memiliki daya magis. Dengan keyakinan tidak ada yang coba melakukan riset (untuk mem-verifikasi), maka angka itu bakal diyakini kebenarannya. Nuzulul Qur’an juga sangat mungkin ditetapkan tanggal 17 untuk memberi kesan magis proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, yang (katanya) bertepatan dengan 17 Ramadhan. Nah bagi ummat Islam (yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia) tentu saja Nuzulul Quran punya nilai sakral yang sangat tinggi. Spekulasi saya, Sukarno ingin member kesan yang sangat sakral akan tanggal proklamasi tersebut dengan menggandengkannya pada Nuzulul Qur’an. Dimunculkanlah tanggal tersebut sebagai Nuzulul Qur’an.

Aya-aya wae Pak Presdien teh. Dasar orang pinter!

 


-- Download NUZULUL QUR’AN DI INDONESIA: BERDAMAI DENGAN KEKELIRUAN as PDF --


MEMBERI MANFAAT

Saya merasa menjadi orang yang beruntung. Salah satu keberuntungannya adalah memiliki temen-temen SMA yang berhasil (khususnya secara finansial). Diantara yang sukses itu ada yang sudah bisa memiliki rumah di Pondok Indah Jakarta. Saking kayanya, biasanya dia menjadi sponsor tunggal untuk reuni dan halal bi halal tahunan angkatan saya. Dia bayar tempat acara (biasanya di hotel) dan makanannya, sementara kita-kita hanya memberi sumbangan. Uang sumbangan itu kemudian diserahkan ke sekolah kami dulu.

Waktu reuni SMA tahun 2012, saya ketemu temen yang sudah lebih dari 15 tahun tak ketemu. Saya terkagum-kagum dengan obrolannya. Waktu SMA, dia dipanggilnya Juragan Mesum. Saya tidak tahu persis mengapa dipanggil demikian. Dugaan saya mungkin dia dulunya “agak nakal”, tapi sekarang dia sangat lain. Orangnya sangat “wise”. Saya sampai nanya: “Koq kamu berubah banget sih?”. Saya bilang: “Mungkin kamu berubah karena istrimu, temen sekelasnya SMA, anak guru agama sehingga kamu banyak dinasihatin. Jadilah kamu seperti sekarang ini”. Tapi menurut dia, bukan istri dan mertuanya yang banyak mengubahnya. Waktu dan permenunganlah yang mengubahnya.

Dia cerita bahwa ketika lulus dari perguruan tinggi seseorang akan membanggakan institusi tempatnya dia bekerja. Ada yang bekerja di BI, Citibank, World Bank, Telkom, Telkomsel, Indosat, dll. Tetapi setelah 5-10 tahun, ketika ketemu, yang didiskusikan tidak lagi institusinya melainkan ‘posisinya’. Kita tidak bangga lagi kerja di Telkom kalau posisi kita dalam 10 tahun masih band 4. Itu malah terasa menyakitkan. Lain halnya kalau kita sudah di band 2 atau bahkan 1. Kita senang mendiskusikan kerja dan karir.

Lewat 15-20 tahun, yang didiskusikan sudah berubah lagi. Kita sudah akan cerita tentang ‘anak-anak’. Dimana sekolahnya atau sudah di mana kerjanya, dll. Kita sudah mulai menggeser perhatian, dari diri kita ke orang-orang terdekat kita. Tetapi kita masih terikat dengan “kepentingan” kita. Nah, ketika memasuki usia 45-50 tahunan, kita sudah mulai mendiskusikan tentang “penyakit” yang sudah datang pada diri kita. Gimana asam uratnya, kolesterolnya berapa, tekanan darahnya, ginjal, dll. Karena sudah datang penyakit, kita mulai berhitung dengan masa ‘depan’ kita. Setelah sukses berkarir di dunia ini, kita mau apa lagi? Mulailah kita mencoba berakrab dengan Tuhan. Mungkin bahasa orang desa di Gunung Kidul: “Kapan kita bisa jagongan dengan Tuhan“.

Kita akan beruntung kalau bisa mengakrabi Tuhan tanpa menunggu masa-masa sakit datang. Justru ketika masih kuat, masih banyak yang bisa dilakukan, kita mulai berfikir: “Apa yang bisa saya lakukan untuk memberi manfaat untuk yang lain?“. Mulailah dengan mendirikan Yayasan, menjadi orang tua asuh, dll. Kalau itu yang kita lakukan, berarti kita ingin menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberikan kebaikan. Alhamdulillah.

Saya ingat teman kerja saya di Telkom (Pusteksi) dulu. Dulunya di PUSTEKSI dan kemudian dipindahkan ke TELKOMSEL. Kalau agama itu didefinisikan sebagai fiqh, jaman di Pusteksi teman saya ini bukan termasuk orang yang taat. Kalau tidak salah, sholat dan puasa rasanya biasa dilewat saja. Tapi itu dulu.

Ketika beberapa tahun setelah beliau di Telkomsel, saya dapat cerita bahwa beliau telah sangat berubah. Dia telah melakukan “redefinisi” hidupnya. Dia sangat shaleh. Saya selalu terkagum pada orang-orang yang berubah sangat drastis. Karena penasaran, saya coba cari-cari telponnya. Dan karena dia jadi pejabat di Telkomsel Jawa Barat, saya mudah mendapatkannya. Saya telpon dan ngobrol. Saya hanya ingin denger pengalaman dia saja. Terakhir, sebelum tutup telpon, saya bilang: “Pak, kalau sedang mencari Tuhan datanglah ke tempat saya telpon saat ini. Kayaknya Tuhan ada di sekitar saya ini”. Dia ketawa saja. Saya memang guyon tetapi tidak sepenuhnya salah. Saat itu saya sedang di sebuah pesantren, yang santri-santrinya mungkin hampir 100% berasal dari kalangan orang miskin. Ada sebuah hadits yang berbunyi: “Carilah Aku (Tuhan) diantara orang-orang miskin“. Itulah dasar ucapan saya kepada beliau.

Wallahu’alam.

Salam,
Yusuf B. Nila Santana


-- Download MEMBERI MANFAAT as PDF --


FILSAFAT ILMU dan POHON ILMU PENGETAHUAN

Wajah dunia saat ini (konon) hanya ditentukan oleh dua orang: Nabi dan Filosof. Selebihnya hanya melaksanakan apa yang sudah “dirancang” oleh mereka berdua. Seperti bangunan rumah yang hanya dibangun oleh dua orang yaitu arsitek dan sipil, sementara yang lainnya hanya sebagai “tukang” dan “laden”. Perumpamaan tersebut menunjukkan posisi strategis Nabi dan Filosof dalam konteks kehidupan di dunia ini. Dari Nabi dan Filosof yang sampai pada kita pada hari ini adalah “ajarannya” atau “ilmu pengetahuannya”. Karena itu, pengetahuan yang diajarkan oleh mereka juga menempati posisi yang sangat strategis dalam dunia ini.

Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang pengalaman hidup dengan tujuan mendapatkan hakikat/pengertian yang mendasar secara kritis refleksif, rasional reflektif. Filsafat tidak membatasi objek materialnya tetapi hanya membatasi objek formalnya. Manusia, misalnya sebagai objek material, bisa dipelajari dari berbagai sudut pandang: Biologi, Kedokteran, Psikologi, dll (termasuk Filsafat). Sudut pandang pembahasan inilah yang disebut sebagai objek formal. Objek formal ialah cara pendekatan pada suatu objek material yang sedemikian khas sehingga mencirikan, atau mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan, baik itu pengetahuan, agama, ataupun kesenian, dan sebagainya. Objek formal Filsafat adalah berusaha mendapatkan ‘hakikat’ sesuatu. Dengan demikian, kekhususan dan ciri khas filsafat dapat dijelaskan, kalau objek formalnya ditentukan.

Jika filsafat ditempatkan dalam konteks hidup orang yang beriman, maka lahirlah cabang filsafat, yakni filsafat ketuhanan. Dengan cara yang sama, tampillah cabang-cabang filsafat lainnya: filsafat manusia dan filsafat alam. Ketiga cabang filsafat tersebut sebenarnya tak boleh dipisahkan satu sama lainnya, karena manusia, alam dan ketuhanan disoroti menurut sebab-musabab terakhir yang selalu meliputi ketiga cabang tersebut.

Selain ketiga cabang filsafat tersebut masih ada filsafat lain yang memberi arah sehingga dinamika filsafat sebagai proses ‘pengembaraan menuju’ harapan yang baik dapat terwujud. Filsafat tersebut adalah Etika. Etika menyoroti tingkah laku manusia agar ia hidup dan berperilaku dengan baik. Pembagian cabang-cabang filsafat ini belum selesai, karena sorotan pembahasan atas manusia, alam, ketuhanan dan patokan-patokan etis harus terjadi secara benar. Hal ini melahirkan satu cabang filsafat lagi, yakni filsafat pengetahuan.

Berbeda dengan ilmu emprisi, Filsafat tujuannya bukan pada fenomena. Seperti kita ketahui Ilmu Empiris berbicara tentang fenomena, menganalisis dan membandingkan fenomena, mengambil kesimpulan dari fenomena-fenomena tersebut. Pada akhirnya ilmu empiris merumuskan hukum-hukum yang berlaku pada fenomena tersebut. Filsafat berbicara tentang apa yang ada di belakang fenomena (meta-fenomena), menembus batas-batas fenomena, dan mencari prinsip-prinsip yang mendasari fenomena. Misal, apa yang hakiki dari manusia? Aristoteles menjawabnya dengan menyebut makhluk yang rasional. Karl Marx menyebutnya dengan makhluk yang bekerja.

Kalau kita menyelidiki apa yang dapat kita saksikan di luar dan di dalam diri kita, ternyata tidak pernah satu pengetahuan pun memuaskan hati atau akal budi manusia secara tuntas. Artinya, segala hasil pengetahuan bersifat sementara dan terbuka. Itulah ciri khas pengetahuan yakni bertanya sambil mencari, yang merupakan sintesis tiada henti antara “sudah tahu” dan “belum tahu”.

Setiap tindakan pengetahuan menyiratkan adanya gejala “kesadaran akan pengetahuan”. Apabila unsur tersirat itu diucapkan menjadi tersurat, maka terjadilah apa yang disebut refleksi. Berkat refleksi, pengetahuan kehilangan kelangsungan dan spontanitasnya, tetapi serentak pengetahuan itu mulai cocok untuk diatur secara sistematis sedemikian rupa sehingga isinya dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk hal tersebut, setiap ilmu menyusun model.

Ada dua model yang pada dasarnya saling melengkapi, yaitu: Pertama, manusia mau semakin mendekati apa yang merupakan objek pengetahuan ilmiah ataupun mau menarik objek itu kepadanya. Agar pendekatan ini semakin berhasil, si ilmuwan membuat suatu model lahir dan nyata. Yang diharapkan ialah suatu pengertian berdasarkan pemandangan model yang berbentuk gambar maupun bermatra (dimensi) tiga. Penyederhanaan ini merupakan suatu abstraksi, tetapi objek yang dipelajari itu semakin masuk akal.

Kedua, manusia mau semakin mengerti apa yang merupakan objek pengetahuan ilmiah, seolah-olah hendak memasuki susunan objek yang sedang dipelajari itu sedalam-dalamnya. Dengan demikian, diharapkan akan didapatkan pengertian yang berasal “dari dalam”. Pengertian “dari dalam” itu biasanya terjadi dalam ilmu-ilmu yang suka memakai rumus-rumus matematis sebagai model. Model itu disebut model abstrak.

Model pertama mewakili kelompok ilmu yang mementingkan pengamatan dan penelitian, yang disebut empiris, atau aposteriori (segala ungkapan ilmu-ilmu bersangkutan baru terjadi sesudah pengamatan). Tokoh paling awalnya Aristoteles.

Model kedua mewakili kelompok ilmu yang seakan-akan ingin segera menangkap susunan keniscayaan yang mendasari segala kenyataan secara apriori (ilmu-ilmu ini ingin menentukan apa kiranya yang mendahului adanya segala kenyataan itu). Tokoh paling awalnya Plato.

Menurut Plato, satu-satunya pengetahuan sejati ialah apa yang disebutnya episteme, yaitu pengetahuan yang tunggal dan tak berubah, sesuai dengan idea-idea abadi. Di dunia yang fana ini hanya terdapat bayangan dari yang baka. Bayangan itu banyak, bermacam-macam dan tak henti-hentinya berubah. Apabila manusia mengamati bayangan-bayangan itu, maka teringatlah ia akan idea-idea yang pernah dipandangnya dulu sewaktu belum masuk penjara badannya. Maka, pengetahuan yang dicita-citakan Plato itu ditafsirkannya sebagai hasil ingatan yang melekat padanya (jadi, apriori). Dan ingatan itu berlangsung berdasarkan intuisi yang pernah dialami jiwanya. Menurut Plato, kelompok ilmu yang bersifat paling apriori adalah ilmu pasti. Karena itu ilmu pasti dijadikan syarat mutlak untuk dapat berilmu. Semboyan sekolah Plato berbunyi: “Yang tak berpengalaman dalam matematika dilarang masuk”.

Aristoteles, murid Plato, mengganti konsep ‘ingatan’ dan ‘intuisi’-nya Plato dengan abstraksi. Menurut dia, tercapainya pengetahuan sebagai hasil kegiatan manusia yang mengamati kenyataan yang banyak dan yang berubah, lalu melepaskan unsur-unsur “universal” dari yang “partikular”. Sambil meneruskan jalan abstraksi, manusia itu akan semakin meninggalkan bidang inderawi, hingga akhirnya mencapai episteme sebagai pengetahuan sejati.

Dalam pengetahuan episteme itu manusia tidak hanya tahu “tentang” melainkan juga “mengapa” terdapatnya atau terjadinya sesuatu. Dengan demikian, Aristoteles bertolak dari pengamatan dan penelitian aposteriori dan menggabungkannya dengan model apriori. Sedangkan Plato mengutamakan model ilmu apriori.

Jadi, perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan terletak pada sifat teratur dan sistematis yang nampak dalam ilmu pengethuan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara teoritis dan reflektif. Dengkan kata lain, cara kerja atau metode ilmu pengetahuanlah yang menjadi ciri ilmu, kalau dibandingkan dengan pengetahuan sehari-hari.


-- Download FILSAFAT ILMU dan POHON ILMU PENGETAHUAN as PDF --


MATERI KULIAH MANAGERIAL ECONOMICS & BUSINESS STRATEGY

  1. Pengantar ke Ekonomi Manajerial (penawaran, permintaan, equilibrium, dan elastisitas)
  2. Struktur Pasar Persaingan Sempurna
  3. Struktur Pasar Monopoli
  4. Struktur Pasar Oligopoli (Model Cournot)
  5. Struktur Pasar Oligopoli (Model Stackelberg)
  6. Struktur Pasar Oligopoli (Model Bertrand)
  7. Pengantar ke Game Theory
  8. Pengantar ke Strategi Harga
  9. Diskriminasi Harga dan Bundling
  10. Topik Lanjut tentang Harga
  11. Horizontal Merger
  12. Vertical Merger
  13. Informasi dan Iklan
  14. Regulasi dan Deregulasi

-- Download MATERI KULIAH MANAGERIAL ECONOMICS & BUSINESS STRATEGY as PDF --


MENGENAL “NABI” EKONOMI

Saya mau cerita.Sebetulnya mau cerita mengenai dunia yang kita lihat hari ini, tetapi bingung memulainya harus dari mana. Karena itu, sebagai pengantar saya ingin memulai dengan cerita seorang tokoh paling penting dalam sejarah perekonomian dunia. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai Nabi-nya ekonomi yang mengantarkan kita ke era kapitalisme saat ini.

Pada 9 Maret 1776, penerbit London William Strahan meluncurkan dua jilid buku berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, atau lebih dikenal sebagai the Wealth of Nations, yang ditulis oleh Dr. Adam Smith. The Wealth of Nations menjadi karya intelektual yang terkenal di seluruh dunia. Publikasi karya ini menjanjikan suatu dunia baru bagi semua orang – bukan hanya untuk orang kaya dan penguasa, tetapi juga untuk rakyat kebanyakan. Bahkan seringkali secara berlebihan, the Wealth of Nations dianggap sebagai buku paling penting yang pernah ditulis selain Bibel. Ringkasnya, The Wealth of Nations adalah semacam deklarasi kebebasan ekonomi (yang kebetulan dideklarasikan dalam tahun yang sama dengan Deklarasi Kemerdekaan Amerika, 4 Juli 1776).

Setelah menghabiskan waktu 12 tahun untuk menulis bukunya, Smith yakin bahwa dia telah menemukan jenis ekonomi yang benar untuk menciptakan “kemakmuran universal”. The Wealth of Nations telah menjadi “proposisi substantive” paling penting dalam ilmu ekonomi.Smith memasukan analisis sistematis perilaku individu yang mengejar kepentingan mereka dalam kondisi persaingan ke dalam pusat ilmu ekonomi. Dia menamakan modelnya sebagai “sistem kebebasan alamiah.” Dewasa ini para ekonom menyebutnya “model klasik.” Smith menggarisbawahi tiga karakterisitk dari sistem atau model klasik:
1. Kebebasan (freedom): hak untuk memproduksi dan menukar   (memperdagangkan) produk, tenaga kerja, dan capital.
2. Kepentingan diri (self-interest): hak seseorang untuk melakukan usaha sendiri dan membantu kepentingan diri orang lain.
3. Persaingan (competition): hak untuk bersaing dalam produksi dan perdagangan barang dan jasa.

Menurut Smith, ketiga unsur tersebut akan menghasilkan “harmoni alamiah” dari kepentingan antara buruh, pemilik tanah dan kapitalis. Doktrin tentang “harmoni alamiah” ini sering disebut sebagai “invisible hand”. Dari The Wealth of Nations inilah konsep tentang competition dan competitive markets bermula.
The Wealth of Nations selain menjadi buku paling penting dalam ilmu ekonomi moderen, dia juga menjadi pemicu lahirnya pemikiran-pemikiran baru ilmu ekonomi. Dari tiga karakteristik yang digarisbawahi oleh Adam Smith, konsep persaingan sempurna (perfect competition) mendapat perhatian yang paling banyak dari para ekonom generasi selanjutnya.
Secara sederhana, Adam Smith mendefinisikan kompetisi sebagai sebuah proses aktif dari respon atas tekanan-tekanan baru dan suatu metode untuk mencapai suatu equilibrium baru. Adam Smith mempersyaratkan lima kondisi untuk kompetisi:
1. Pesaing harus bertindak secara independen, tidak ada kolusi.
2. Jumlah pesaing harus memadai untuk menghilangkan extraordinary gains.
3. Unit-unit ekonomi harus memiliki pengetahuan tentang peluang pasar.
4. Harus ada kebebasan untuk bertindak yang didasarkan pada pengetahuannya.
5. Cukup waktu untuk menyalurkan sumberdaya ke arah dan kuantitas yang dibutuhkan pemiliknya.

Itu dulu ceritanya. Mudah-mudahan saya bisa melanjutkannya.

Salam,
Kang YusufB


-- Download MENGENAL “NABI” EKONOMI as PDF --


Kenaikan Harga BBM, mengapa harus diterima?

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Ajaran di atas sudah dipahami oleh semua orang. Sayangnya pemahaman ternyata tidak selalu sejalan dengan pengamalan. Subsidi pada prinsipnya adalah bantuan. Apakah kita pantas menerima bantuan? Jika kita orang miskin tentu saja kita pantas mendapatkannya. Celakanya, banyak diantara kita hanya merasa sebagai orang miskin. Bukan orang miskin yang sesungguhnya. Dengan merasa miskin saja, kita sudah merasa pantas jadi penerima subsidi. Apa buktinya? Apakah para pemilik mobil pantas disebut sebagai orang miskin? Tidak. Lihat di SPBU, lebih banyak mobil pribadi yang ngantri beli Premium ketimbang Pertamax. Padahal jelas-jelas di setiap SPBU Pertamina membuat spanduk yang menjelaskan bahwa BBM bersubsidi (Premium dan Solar) hanya untuk orang-orang miskin. Ketika beli bensin, orang kaya, orang pandai, orang shaleh jadi pura-pura buta huruf dan tidak bisa membaca pesan dari Pertamina tersebut. Orang-orang kaya pura-pura miskin, orang-orang pintar pura-pura bodoh, para agamawan (ustadz, pendeta, dll) pura-pura tidak tahu halal-haram. Semuanya hanya menjalankan apa yang sudah disebutkan Adam Smith ratusan tahun yang lalu, “People response to incentive”. Selama menguntungkan dirinya, orang akan melakukannya. Untuk kasus ini semua orang menjadi merasa layak menjadi “mustahik” – sebagai penerima zakat (orang miskin yang layak diberi bantuan).

Jadi, siapa yang seharusnya menikmati BBM bersubsidi (Premium atau Solar)? Tentu saja harus benar-benar orang miskin. Secara sederhana representasi orang miskin adalah para pemakai kendaraan umum (yang tidak memiliki kendaraan pribadi). Kendaraan dengan nomor plat kuning saja yang layak dapat subsidi, misalnya angkot, bis, dan truk (pengangkut barang). Selebihnya harus membeli bahan bakar non-subsidi. SPBU harus menolak kendaraan selain plat kuning untuk membeli BBM bersubsidi. Pemerintah harus mengawasi agar supir angkota, bis, dan truk tidak melakukan “reselling”. Pemerintah (Polisi) harus mencegah jangan sampai kendaraan umum tersebut kerjanya hanya beli BBM bersubsidi kemudian menjualnya kepada pemilik kendaraan pribadi. Nah, itu yang tidak terjadi di Indonesia. Penikmat utama BBM bersubsidi adalah orang kaya, pemilik kendaraan pribadi. Artinya, subsidi jauh melenceng dari sasaran yang seharusnya. Padahal, seandainya orang-orang kaya, orang-orang pandai, dan orang-orang shaleh mengubah perilakunya dari penikmat BBM bersubsidi menjadi pembeli BBM non-subsidi, maka kenaikan BBM tidak perlu dilakukan. Masalahnya, mengubah perilaku jauh lebih sulit ketimbang mengubah harga BBM.

Ketika menyusun APBN 2012 pemerintah mengasumsikan harga minyak dunia USD 90 per barel. Dengan asumsi tersebut, pemerintah mengalokasikan subsidi bahan bakar sebesar Rp 123,56 triliun. Posisi akhir Pebruari harga minyak dunia sudah menyentuh harga USD121,75 per barel, lebih tinggi 35% dari asumsi. Dengan demikian, jika harga BBM tetap maka beban subsidi akan meningkat sekitar 35%, atau sebesar Rp 45,6 Triliun menjadi Rp 169 triliun. Nah, supaya beban subsidi BBM tidak meningkat maka terpaksa pemerintah harus menaikan harga BBM. Berapa kenaikannya? Untuk menutup defisit anggaran subsidi sebesar Rp 45,6 triliun pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 35% juga, atau untuk kasus Premium meningkat sebasar Rp 1.586,- supaya kelihatan sederhana naiknya hanya Rp 1.500,-. Dengan kata lain, jika harga Premium menjadi Rp. 6.000,- maka beban anggaran subsidi BBM tidak akan meningkat (tetap Rp 123,56 triliun.

Apa yang terjadi kalau BBM tidak dinaikkan? Yang pasti pemerintah harus mencari uang tambahan sebesar Rp 45,6 triliun untuk mensubsidi para orang kaya tersebut (pemilik kendaraan pribadi). Dari mana uangnya? Kalau potensi pendapatan dalam negeri sudah terhitung dengan benar, artinya tidak ada lagi peluang meningkatkannya, maka mencari pinjaman menjadi solusi paling sederhana. Apa ada negara asing yang mau membantu memberi pinjaman untuk subsidi? Kalau uang pinjaman itu untuk alat produksi tentu saja sangat bermanfaat (banyak orang miskin dapat kerjaan), tapi kalau pinjaman itu hanya untuk konsumsi orang-orang kaya tentu saja hanya menjadi kesia-siaan saja. Mau sampai kapan negara salah mensubsidi (orang kaya)?

BBM naik, inflasi naik? Sangat mungkin, tapi sebetulnya yang paling dirugikan dengan kenaikan inflasi adalah orang-orang kaya. Mengapa? Karena nilai real kekayaannya akan turun. Pintarnya orang kaya adalah mereka pintar berpura-pura tidak ada masalah dengan kenaikan inflasi tersebut. Dengan media (yang dimilikinya), para orang kaya malah menunjukkan penderitaannya orang miskin. Apakah benar?

Bagi orang miskin, inflasi sebenarnya memiliki makna bahwa supply uang lebih banyak dari barang (harga barang akan naik). Dengan kata lain, ada peluang bagi industri untuk menambah produksinya. Kalau industri meningkatkan produksinya, maka ada peluang pekerjaan. Ini jadi semacam “blessing in disguise”, berkah yang tersembunyi. Sayangnya rantai ini tidak dipahami orang-orang miskin.

Jadi kita harus menolak atau mendukung kenaikan harga BBM? Terserah, yang paling penting gunakan akal sehat.

Salam,
Yusuf B. Nila Santana


-- Download Kenaikan Harga BBM, mengapa harus diterima? as PDF --


Memaknai “Neraka” sebagai kasih sayang Tuhan

Memaknai Neraka sebagai “kasih sayang” Tuhan
Tulisan ini sebenarnya hanya semacam transkrip dari obrolan dengan teman. Dalam sebuah bincang-bincang agama di Radio Lita Cimahi, pembawa acara – selain narasumber- mengundang bintang tamu. Bintang tamunya sekumpulan anak muda yang tergabung dalam sebuah kelompok band. Band-nya belum cukup terkenal tetapi namanya agak aneh, The Al-Marhum. Biasanya kata al-marhum disematkan pada orang-orang Islam yang sudah wafat. Karena itu, kata almarhum agak berkesan serem, ya setara dengan kata “kuburan” (yang juga jadi nama band). Kalau kita memahami almarhum dalam makna bahasa, sesungguhnya kata itu bermakna sangat posiitif, yakni “yang dikasihi”. Jika maknanya demikian, gelar almarhum juga boleh saja kita berikan pada orang-orang yang masih hidup dan sehat wal afiat. Anak-anak muda itu memberi nama band The Al-Marhum dalam makna yang positif tersebut, bukan dalam makna yang berkaitan dengan kematian. Itu sekedar intermezzo.

Karena saya mau cerita tentang neraka, tentu saja saya harus berhenti cerita tentang band anak muda tersebut dan beralih ke cerita tentang kematian. Pernahkah kita mati? Jawabannya akan sangat bergantung dengan apa yang dimaksud dengan mati. Jika kita mendefinisikan mati sebagai berpisahnya ruh dengan jasad (fisik), maka tentu saja kita belum pernah mati. Tetapi kalau kita ingat doa bangun tidur, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit”, maka sesungguhnya kita sudah berulang-kali mati dan hidup.

Dalam al-Quran diceritakan bahwa di alam ruh kita semua (yang pernah hidup di dunia dan akan hidup di dunia) dikumpulkan dan ditanya oleh Allah Swt: “Alastu bi robbikum (Apakah Aku ini Tuhanmu?)”, kemudian kita semua menjawab dengan jawaban yang sama: “Bala syahidna (Benar, kami menyaksikannya)”. Dalam imajinasi saya, di alam ruh tidak dikenal urutan kakek-ayah-anak-cucu-dst. Sangat mungkin bahwa cucu saya di alam ruh sempat berteman dengan ruh saya bahkan dengan ruh kakek saya. Hanya ketika diturunkan ke bumi menjadi serial (ada urut-urutannya). Jadi bisa saja, salah satu kawan ruh saya malah menjadi ayah saya, kawan yang lain malah jadi anak saya. Ketika ruh saya dan ruh anak saya belum turun ke bumi sedangkan ruh ayah saya sudah turun, ruh saya dan ruh anak saya (barangkali) ngobrol. Ruh anak saya tanya: “Kalau ruh Nila Santana (nama di dunia ayah saya) ke mana ya?”. Barangkali ruh saya menjawab begini: “Ruh Nila Santana sudah mati, sudah almarhum, sudah pindah ke dunia”. Nah lho! Jadi apa dong yang disebut dengan mati itu?

Sebelum ke dunia ruh itu sempat mampir ke alam yang singkat, namanya alam rahim. Di alam rahimlah mulainya ruh disatukan dengan jasad. Saya agak kesulitan mengilustrasikan alam rahim ini. Apakah ketika di alam rahim ada teman-teman yang bisa saling berkomunikasi? Supaya gampang, kita bayangkan di rahim ibu ada 2 anak kembar, yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan bahasa alam rahim. Ketika yang sulung lahir ke dunia, yang tertinggal di rahim tinggal adiknya. Kira-kira apa yang dipikirkan adiknya? Mungkikah dia berfikir bahwa kakaknya sudah wafat, sudah almarhum, sudah meninggalkan alam rahim dan berpindah ke alam dunia? Who knows?

Bayangkanlah seorang anak kecil, usia 7 tahun, kelas 2 SD. Karena hidup di jaman sekarang, di mana HP, Blackberry, iPod, iPhone, dan iPAD ada di sekelilingnya, anak kecil itu sudah sangat familiar dan sangat menikmati teknologi tersebut. Dia juga kadang buka-buka youtube untuk melihat konser-konser Justin Bieber dan artis-artis terkenal lain yang menjadi kesukaannya. Dia sekarang sedang menunggu kelahiran adiknya yang kedua (adik pertemanya usia 4 tahun). Ibunya sudah 2 hari di Rumah Sakit, sudah 2 hari dia pulang sekolah langsung ke rumah sakit. Dia heran, kenapa adiknya nggak mau lahir ke dunia? Bukankah dunia ini sangat indah dan sangat berwarna. Kita bisa main BB, main game di iPAD, bisa lihat Justin di youtube. Ah, adikku tidak tahu kenikmatan di dunia makanya dia ingin tetep tinggal di alam rahim. Memang sih alam rahim itu alam kasih sayang, tapi kan nggak serame di dunia. Di dunia inilah kita juga bisa lihat hebatnya Lionel Messi dengan Barcalonanya. Kalau lagi bagus, Real Madrid, AC Milan, MU, dan Asenal juga enak ditonton. Lebih hebat lagi nonton Persib di Jalak Harupat. Kurang apa dunia dibanding alam rahim? Mungkin itu bayangan anak kecil yang sedang menanti kelahiran adiknya itu.

Sekarang posisikanlah diri kita di alam barzah (boleh juga kita bayangkan langsung di alam akhirat). Misalnya kita termasuk orang-orang yang beruntung masuk surga dengan segala kenikmatan dan kasih sayang Tuhan di dalamnya. Ketika kita hidup dengan segala kemewahan dan kenikmatan di akhirat, kita akan terheran-heran membayangkan orang-orang di dunia yang sangat takut mati, tidak mau pindah ke akhirat. Di dunia masih sering menemui kegagalan: putus cinta, karir macet, gaji pas-pasan, Liverpool gagal merajai ESL, dan yang lebih menyakitkan lagi Persib kembali gagal jadi juara ISL (sudah belasan tahun nunggu jadi juara kembali). Banyak kekecewaan. Sementara di akhirat, segalanya menyenangkan, tidak akan ada kesedihan. Kecanggihan teknologi di dunia, seperti internet, alat transportasi super cepat, iPAD, facebook, twitter, youtube, dll, jadi terkesan sangat jadul ketika melihat kecanggihan akhirat. Barangkali herannya kita (melihat manusia di dunia takut mati) lebih besar ketimbang keheranan anak SD yang melihat calon adiknya tidak mau pindah ke dunia. Jadi, mengapa kita harus takut dengan akhirat? Kematian hanyalah pintu menuju keabadian (akhirat).

Mengapa kita takut mati? Kita takut mati, mungkin, karena kita takut akan neraka. Mengapa harus takut akan neraka? Karena neraka merupakan tempat terburuk yang pernah ada, penuh dengan penderitaan yang berkepanjangan. Sampai kapan penderitaan di akhirat akan berakhir? Tidak tahu, wallahu’alam. Apakah penderitaan di akhirat mungkin berakhir? Sangat mungkin. Mengapa? Karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih sayangNya jauh melebihi azabNya. Mungkin ilustrasi berikut akan sangat membantu memahaminya.

Maghrib hampir tiba. Seorang ibu memanggil-manggil anak-anaknya. Tiga anak laki-lakinya sedang bermain sepakbola (dengan teman-temannya) di salah satu kolam yang baru tiga hari lalu dikeringkan. Mereka sudah bermain sejak waktu ashar tadi, sudah hampir 2 jam. Tanah di bekas kolam itu masih agak basah sehingga mereka sangat kotor. Ibu itu menyuruh mereka segera kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian ketiga anaknya datang. Yang satu datang sudah bersih. Kelihatannya dia langsung mandi di kolam sebelahnya. Melihat anaknya sudah bersih, ibunya senang dan menyuruhnya segera masuk. Yang kedua lumayan bersih tetapi masih ada beberapa bagian yang kotor. Ibu menyuruhnya untuk membersihkannya. Setelah bersih baru diperbolehkan masuh rumah. Yang ketiga agak parah. Memang anaknya agak bandel. Dia datang dengan badan yang masih penuh dengan lumuran kotoran tanah kolam. Ibunya marah besar. Dia marahin anak itu, dia gusur ke kamar mandi, dia jewer, dia gosok sampai bersih. Ketika dimandikan anak itu ketakutan dan kesakitan. Anak itu menangis termehek-mehek. Anak itu dihukum.

Setelah selesai dihukum, anak ketiga itu akhirnya diperbolehkan masuk rumah yang bersih. Meski terlambat dibanding dua yang lainnya, dia juga diberi makan malam meski lebih sedikit (karena sisa dua lainnya). Mengapa ibunya mengijinkannya masuk ke rumah yang “suci” dan memberi “hidangan”, padahal anak itu kotor dan bandel? Itu terjadi karena ibu memiliki kasih sayang yang besar. Meski dia menghukum, hukumannya hanya sesaat saja dan sesungguhnya untuk kebaikan si anak itu. Dalam jangka panjang, kasih sayang ibulah yang ada.

Jika kasih sayang ibu saja bisa menyelamatkan anak tersebut, bagaimana mungkin Allah Swt yang Maha Penyayang membiarkan mahluknya dalam penderitaan selama-lamanya. Kasih sayang Allah Swt tentunya tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang orang tua. Kasih sayang Allah maha luas, tak berbatas. Dalam konteks seperti ini, kita bisa memaknai “hukuman di neraka” sebagai kasih sayang Allah Swt. Untuk masuk rumah orang tua saja si anak harus “suci”, bagaimana mungkin untuk masuk rumah Allah (surga) kita masih berlumuran dosa. Proses di neraka adalah proses pencucian dan pensucian diri. Orang-orang yang “mampir” ke neraka adalah mereka yang “dijewer” dan “digosok” sampai bersih. Mungkin itu sebabnya dalam al-Quran keabadian neraka dan surga menggunakan istilah yang “sedikit berbeda”. Keabadian neraka menggunakan istilah “kholidina fi ha (kekal)”, sementara di surga “kholidina fi ha abada (kekal abadi)”. Tentu bukan tanpa sengaja Allah Swt menggunakan istilah yang berbeda. Mungkin neraka itu kekal hanya untuk menunjukkan betapa lamanya dibandingkan kehidupan dunia, sementara di surga kekal-abadi menunjukkan lamanya dibanding kekalnya neraka sekalipun. Neraka menjadi sesaat jika dibandingkan kekal-abdi di surga. Wallahu’alam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk “meremehkan” urusan mati dan neraka. Tulisan ini hanya memberikan alternatif perspektif terhadap mati dan neraka. Kita takut mati, itu adalah hal yang wajar. Ketika kita takut mati, maka sesungguhnya kita ingin abadi (hidup selamanya). Adanya keinginan atas keabadian, menunjukkan adanya keabadian itu sendiri (maaf agak rumit difahami). Sederhananya begini, ketika kita merasa haus maka rasa haus itu sendiri menunjukkan adanya air. Tidak mungkin Tuhan memberikan rasa haus kalau tidak disediakan penawar hausnya (air). Ketika kita merasa lapar maka itu menunjukkan adanya makanan. Tidak mungkin kita lapar sementara Tuhan tidak menciptakan makanan.

Terakhir, ketika sesorang wafat biasanya kita berucap “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un – Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” Siapapun kita, apapun kita, kita semua akan kembali kepada Allah Swt. Adakah tempat yang lebih baik dari selain kembali kepada Allah Swt? Tentu saja tidak ada. Hanya kebahagianlah yang akan kita temui ketika kita “sudah kembali” kepada Allah Swt. Kasih sayang Allah-lah yang akan meliputi kita semua. Jadilah kita sebagai anggota komunitas The Al-Marhum (yang dikasihi Allah Swt). Amiin. Wallahu’alam.

Memaknai Neraka sebagai “kasih sayang” Tuhan
Tulisan ini sebenarnya hanya semacam transkrip dari obrolan dengan teman. Dalam sebuah bincang-bincang agama di Radio Lita Cimahi, pembawa acara – selain narasumber- mengundang bintang tamu. Bintang tamunya sekumpulan anak muda yang tergabung dalam sebuah kelompok band. Band-nya belum cukup terkenal tetapi namanya agak aneh, The Al-Marhum. Biasanya kata al-marhum disematkan pada orang-orang Islam yang sudah wafat. Karena itu, kata almarhum agak berkesan serem, ya setara dengan kata “kuburan” (yang juga jadi nama band). Kalau kita memahami almarhum dalam makna bahasa, sesungguhnya kata itu bermakna sangat posiitif, yakni “yang dikasihi”. Jika maknanya demikian, gelar almarhum juga boleh saja kita berikan pada orang-orang yang masih hidup dan sehat wal afiat. Anak-anak muda itu memberi nama band The Al-Marhum dalam makna yang positif tersebut, bukan dalam makna yang berkaitan dengan kematian. Itu sekedar intermezzo.

Karena saya mau cerita tentang neraka, tentu saja saya harus berhenti cerita tentang band anak muda tersebut dan beralih ke cerita tentang kematian. Pernahkah kita mati? Jawabannya akan sangat bergantung dengan apa yang dimaksud dengan mati. Jika kita mendefinisikan mati sebagai berpisahnya ruh dengan jasad (fisik), maka tentu saja kita belum pernah mati. Tetapi kalau kita ingat doa bangun tidur, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit”, maka sesungguhnya kita sudah berulang-kali mati dan hidup.

Dalam al-Quran diceritakan bahwa di alam ruh kita semua (yang pernah hidup di dunia dan akan hidup di dunia) dikumpulkan dan ditanya oleh Allah Swt: “Alastu bi robbikum (Apakah Aku ini Tuhanmu?)”, kemudian kita semua menjawab dengan jawaban yang sama: “Bala syahidna (Benar, kami menyaksikannya)”. Dalam imajinasi saya, di alam ruh tidak dikenal urutan kakek-ayah-anak-cucu-dst. Sangat mungkin bahwa cucu saya di alam ruh sempat berteman dengan ruh saya bahkan dengan ruh kakek saya. Hanya ketika diturunkan ke bumi menjadi serial (ada urut-urutannya). Jadi bisa saja, salah satu kawan ruh saya malah menjadi ayah saya, kawan yang lain malah jadi anak saya. Ketika ruh saya dan ruh anak saya belum turun ke bumi sedangkan ruh ayah saya sudah turun, ruh saya dan ruh anak saya (barangkali) ngobrol. Ruh anak saya tanya: “Kalau ruh Nila Santana (nama di dunia ayah saya) ke mana ya?”. Barangkali ruh saya menjawab begini: “Ruh Nila Santana sudah mati, sudah almarhum, sudah pindah ke dunia”. Nah lho! Jadi apa dong yang disebut dengan mati itu?

Sebelum ke dunia ruh itu sempat mampir ke alam yang singkat, namanya alam rahim. Di alam rahimlah mulainya ruh disatukan dengan jasad. Saya agak kesulitan mengilustrasikan alam rahim ini. Apakah ketika di alam rahim ada teman-teman yang bisa saling berkomunikasi? Supaya gampang, kita bayangkan di rahim ibu ada 2 anak kembar, yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan bahasa alam rahim. Ketika yang sulung lahir ke dunia, yang tertinggal di rahim tinggal adiknya. Kira-kira apa yang dipikirkan adiknya? Mungkikah dia berfikir bahwa kakaknya sudah wafat, sudah almarhum, sudah meninggalkan alam rahim dan berpindah ke alam dunia? Who knows?

Bayangkanlah seorang anak kecil, usia 7 tahun, kelas 2 SD. Karena hidup di jaman sekarang, di mana HP, Blackberry, iPod, iPhone, dan iPAD ada di sekelilingnya, anak kecil itu sudah sangat familiar dan sangat menikmati teknologi tersebut. Dia juga kadang buka-buka youtube untuk melihat konser-konser Justin Bieber dan artis-artis terkenal lain yang menjadi kesukaannya. Dia sekarang sedang menunggu kelahiran adiknya yang kedua (adik pertemanya usia 4 tahun). Ibunya sudah 2 hari di Rumah Sakit, sudah 2 hari dia pulang sekolah langsung ke rumah sakit. Dia heran, kenapa adiknya nggak mau lahir ke dunia? Bukankah dunia ini sangat indah dan sangat berwarna. Kita bisa main BB, main game di iPAD, bisa lihat Justin di youtube. Ah, adikku tidak tahu kenikmatan di dunia makanya dia ingin tetep tinggal di alam rahim. Memang sih alam rahim itu alam kasih sayang, tapi kan nggak serame di dunia. Di dunia inilah kita juga bisa lihat hebatnya Lionel Messi dengan Barcalonanya. Kalau lagi bagus, Real Madrid, AC Milan, MU, dan Asenal juga enak ditonton. Lebih hebat lagi nonton Persib di Jalak Harupat. Kurang apa dunia dibanding alam rahim? Mungkin itu bayangan anak kecil yang sedang menanti kelahiran adiknya itu.

Sekarang posisikanlah diri kita di alam barzah (boleh juga kita bayangkan langsung di alam akhirat). Misalnya kita termasuk orang-orang yang beruntung masuk surga dengan segala kenikmatan dan kasih sayang Tuhan di dalamnya. Ketika kita hidup dengan segala kemewahan dan kenikmatan di akhirat, kita akan terheran-heran membayangkan orang-orang di dunia yang sangat takut mati, tidak mau pindah ke akhirat. Di dunia masih sering menemui kegagalan: putus cinta, karir macet, gaji pas-pasan, Liverpool gagal merajai ESL, dan yang lebih menyakitkan lagi Persib kembali gagal jadi juara ISL (sudah belasan tahun nunggu jadi juara kembali). Banyak kekecewaan. Sementara di akhirat, segalanya menyenangkan, tidak akan ada kesedihan. Kecanggihan teknologi di dunia, seperti internet, alat transportasi super cepat, iPAD, facebook, twitter, youtube, dll, jadi terkesan sangat jadul ketika melihat kecanggihan akhirat. Barangkali herannya kita (melihat manusia di dunia takut mati) lebih besar ketimbang keheranan anak SD yang melihat calon adiknya tidak mau pindah ke dunia. Jadi, mengapa kita harus takut dengan akhirat? Kematian hanyalah pintu menuju keabadian (akhirat).

Mengapa kita takut mati? Kita takut mati, mungkin, karena kita takut akan neraka. Mengapa harus takut akan neraka? Karena neraka merupakan tempat terburuk yang pernah ada, penuh dengan penderitaan yang berkepanjangan. Sampai kapan penderitaan di akhirat akan berakhir? Tidak tahu, wallahu’alam. Apakah penderitaan di akhirat mungkin berakhir? Sangat mungkin. Mengapa? Karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih sayangNya jauh melebihi azabNya. Mungkin ilustrasi berikut akan sangat membantu memahaminya.

Maghrib hampir tiba. Seorang ibu memanggil-manggil anak-anaknya. Tiga anak laki-lakinya sedang bermain sepakbola (dengan teman-temannya) di salah satu kolam yang baru tiga hari lalu dikeringkan. Mereka sudah bermain sejak waktu ashar tadi, sudah hampir 2 jam. Tanah di bekas kolam itu masih agak basah sehingga mereka sangat kotor. Ibu itu menyuruh mereka segera kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian ketiga anaknya datang. Yang satu datang sudah bersih. Kelihatannya dia langsung mandi di kolam sebelahnya. Melihat anaknya sudah bersih, ibunya senang dan menyuruhnya segera masuk. Yang kedua lumayan bersih tetapi masih ada beberapa bagian yang kotor. Ibu menyuruhnya untuk membersihkannya. Setelah bersih baru diperbolehkan masuh rumah. Yang ketiga agak parah. Memang anaknya agak bandel. Dia datang dengan badan yang masih penuh dengan lumuran kotoran tanah kolam. Ibunya marah besar. Dia marahin anak itu, dia gusur ke kamar mandi, dia jewer, dia gosok sampai bersih. Ketika dimandikan anak itu ketakutan dan kesakitan. Anak itu menangis termehek-mehek. Anak itu dihukum.

Setelah selesai dihukum, anak ketiga itu akhirnya diperbolehkan masuk rumah yang bersih. Meski terlambat dibanding dua yang lainnya, dia juga diberi makan malam meski lebih sedikit (karena sisa dua lainnya). Mengapa ibunya mengijinkannya masuk ke rumah yang “suci” dan memberi “hidangan”, padahal anak itu kotor dan bandel? Itu terjadi karena ibu memiliki kasih sayang yang besar. Meski dia menghukum, hukumannya hanya sesaat saja dan sesungguhnya untuk kebaikan si anak itu. Dalam jangka panjang, kasih sayang ibulah yang ada.

Jika kasih sayang ibu saja bisa menyelamatkan anak tersebut, bagaimana mungkin Allah Swt yang Maha Penyayang membiarkan mahluknya dalam penderitaan selama-lamanya. Kasih sayang Allah Swt tentunya tidak bisa dibandingkan dengan kasih sayang orang tua. Kasih sayang Allah maha luas, tak berbatas. Dalam konteks seperti ini, kita bisa memaknai “hukuman di neraka” sebagai kasih sayang Allah Swt. Untuk masuk rumah orang tua saja si anak harus “suci”, bagaimana mungkin untuk masuk rumah Allah (surga) kita masih berlumuran dosa. Proses di neraka adalah proses pencucian dan pensucian diri. Orang-orang yang “mampir” ke neraka adalah mereka yang “dijewer” dan “digosok” sampai bersih. Mungkin itu sebabnya dalam al-Quran keabadian neraka dan surga menggunakan istilah yang “sedikit berbeda”. Keabadian neraka menggunakan istilah “kholidina fi ha (kekal)”, sementara di surga “kholidina fi ha abada (kekal abadi)”. Tentu bukan tanpa sengaja Allah Swt menggunakan istilah yang berbeda. Mungkin neraka itu kekal hanya untuk menunjukkan betapa lamanya dibandingkan kehidupan dunia, sementara di surga kekal-abadi menunjukkan lamanya dibanding kekalnya neraka sekalipun. Neraka menjadi sesaat jika dibandingkan kekal-abdi di surga. Wallahu’alam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk “meremehkan” urusan mati dan neraka. Tulisan ini hanya memberikan alternatif perspektif terhadap mati dan neraka. Kita takut mati, itu adalah hal yang wajar. Ketika kita takut mati, maka sesungguhnya kita ingin abadi (hidup selamanya). Adanya keinginan atas keabadian, menunjukkan adanya keabadian itu sendiri (maaf agak rumit difahami). Sederhananya begini, ketika kita merasa haus maka rasa haus itu sendiri menunjukkan adanya air. Tidak mungkin Tuhan memberikan rasa haus kalau tidak disediakan penawar hausnya (air). Ketika kita merasa lapar maka itu menunjukkan adanya makanan. Tidak mungkin kita lapar sementara Tuhan tidak menciptakan makanan.

Terakhir, ketika sesorang wafat biasanya kita berucap “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un – Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” Siapapun kita, apapun kita, kita semua akan kembali kepada Allah Swt. Adakah tempat yang lebih baik dari selain kembali kepada Allah Swt? Tentu saja tidak ada. Hanya kebahagianlah yang akan kita temui ketika kita “sudah kembali” kepada Allah Swt. Kasih sayang Allah-lah yang akan meliputi kita semua. Jadilah kita sebagai anggota komunitas The Al-Marhum (yang dikasihi Allah Swt). Amiin. Wallahu’alam.


-- Download Memaknai "Neraka" sebagai kasih sayang Tuhan as PDF --